Wednesday, April 4, 2012

Cerutu Indonesia Unjuk Gigi di Kuba


Cerutu Indonesia-Indonesia sebagai produsen rokok. Padahal Indonesia juga memiliki industri cerutu. Cerutu Indonesia mungkin belum dapat menyamai industri cerutu Kuba yang telah berdiri sejak abad ke-16. Namun, kualitas tembakau Indonesia sudah diakui dunia. Keikutsertaan Indonesia dalam festival cerutu internasional bertajuk 'XII Festival Habano' di Palacio de los Convenciones, Havana, Kuba, ingin membuktikan bahwa cerutu Indonesia sejajar dan layak dijadikan produk dunia.

Lihat saja di antara jepitan jari para bule penikmat cerutu, ada nama Wismilak dan Sultan. Cerutu-cerutu Indonesia sedang unjuk gigi di Kuba.

Para penikmat cerutu di Kuba atau Club de Fumadores de Cuba, ikut menjajal cerutu Indonesia dalam festival 22-26 Februari 2010 lalu. Adalah Lydia Tamboto dan suaminya Kastorius Sinaga yang membawa lima cerutu Indonesia ke sana. Cerutu itu adalah Wismilak, Sultan, Dos Hermanos, Tambo dan Gold Seal (cerutu mini).

"Kebetulan saya baru pulang minggu lalu dari Kuba untuk memperkenalkan cerutu Indonesia. Cukup lumayan perhatiannya," kata Lydia, pemilik Havana Gallery kepada detikcom saat ditemui di tokonya, di Plaza Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (18/3/2010) malam.

Menurut Lydia, dunia hanya mengenal Indonesia sebagai produsen rokok. Padahal Indonesia juga memiliki industri cerutu. Diakui dia, cerutu Indonesia mungkin belum dapat menyamai industri cerutu Kuba yang telah berdiri sejak abad ke-16. Namun, kualitas tembakau Indonesia sudah diakui dunia

"Buktinya, produk cerutu dunia di Amerika Latin atau Eropa menyebutkan komponen tembakaunya berasal dari Indonesia. Tembakau kita selalu masuk rating dalam produk cerutu luar negeri. Tentunya ini bisa meningkatkan citra cerutu Indonesia," jelasnya.

Cerutu Indonesia lebih rungan rasanya dibandingkan cerutu Kuba. Namun memang setiap cerutu punya cita rasa berbeda. Misalnya saja cerutu Dominika, butuh terbakar sampai dua inchi baru keluar rasanya yang khas.

Cerutu memang tidak bisa dibuat dari daun tembakau sembarangan. Butuh waktu dua tahun setelah panen, barulah daun tembakau bisa dijadikan cerutu. Daun tembakau difermentasi dahulu barulah siap digulung menjadi cerutu. Di Kuba, cerutu digulung dengan tangan dan di Belanda digulung dengan mesin. Untuk menjaga kualitas tembakau, cerutu harus disimpan dalam temperatur 20 derajat celcius dengan kelembaban 70 persen.

"Cita rasa cigar itu di daun tembakaunya. Kalau temperaturnya terlalu panas, kandungan cigar ada yang menguap dan mempengaruhi rasanya," tandasnya.

Karakteristik tembakau di sejumlah negara berbeda-beda. Tembakau Kuba seratnya kasar dan warnanya coklat gelap. Tembakau Dominika seratnya halus dan berwarna cokelat muda. Walau semua asal benih tembakau sama, ketika ditanam di suatu negara menghasilkan kualitas tembakau yang berbeda. Ini sangat dipengaruhi unsur tanah, cuaca dan terik matahari. Biasanya tembakau untuk rokok paling bagus ditanam pada saat musim panas, sementara untuk cerutu pada musim penghujan.

Menurut Lydia, tidak ada lagi yang berbisnis cerutu di Jakarta. 2 Toko cigar di Jakarta sudah tutup. Namun karena Lydia dan suaminya memang hobi, bisnis toko cerutunya bisa bertahan. Apalagi ada sejumlah komunitas yang sudah menjadi pelanggan setia. "Memang kalau lebih besar pasak dari tiang pastinya pastinya tutup. Tapi, karena ini hobi, ya terus jalan," pungkasnya.

Lydia berbagi tips untuk menikmati cerutu. Para pemula bisa memilih cerutu berasa mild sampai medium. Biasanya penikmat cerutu akan mencocokan sendiri jenis dan ukuran cerutu yang sesuai. Semua punya rasa yang berbeda. Untuk menyulut cerutu, ujung cerutu dibakar sambil cerutu diputar-putar. Sementara pangkalnya dihisap. Pembakaran terus dilakukan sampai cerutu terbakar sempurna dan merata.

Cara menghisap cerutu tidak sama dengan rokok biasa. Cerutu hanya dihisap sampai rongga mulut untuk dinikmati cita rasanya. Kemudian asap dihembuskan keluar. Demikian seterusnya sampai cerutu habis. Cerutu pun harus dinikmati dengan kondisi tenang. Cerutu yang dihisap terlalu cepat akan menimbulkan rasa panas dan merusak cita rasa. Sebaliknya, cerutu yang dihisap terlalu lambat akan cenderung mati.

Jatim Sumbang 60 Persen Rokok Nasional




SURABAYA (suarakawan.com) – Jawa Timur masih menjadi propinsi terbesar yang menyumbang pendapatan negara dari cukai rokok, sekaligus produsen terbesar rokok yang menguasai 60 persen produksi nasional. Dari total kapasitas produksi rokok nasional sebesar 240 miliar batang per tahun, 180 miliar batang rokok diproduksi di Jawa Timur.
“Kontribusi cukai tembakau dari Jatim sangat besar hingga mencapai Rp.30 triliun dari total Rp. 60 triliun hasil cukai tembakau secara nasional,” kata saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur saat membuka Workshop Improving Na-Oogst Tobacco Marketing Pattern And Developing Virginia Tobacco For Imports Substitution In East Java, di hotel JW Marriot, Kamis (24/11).
Data dari Dinas Perkebunan Jatim menyebutkan, nilai tersebut dihasilkan dari luas lahan sebesar 102.000 hektar yang tersebar di 22 kabupaten/ kota.
“Produksi tembakau dari Jatim per tahun mencapai 81 ribu ton atau 56,9 persen dari produksi tembakau nasional” ujar Wakil Gubernur Saifullah Yusuf.
Jawa Timur lanjut Saifullah Yusuf mempunyai visi dan misi terkait dengan pengembangan tembakau, yaitu terwujudnya agribisnis tembakau dan industri hasil tembakau yang bernilai strategis.
“Ini harus dilakukan secara professional, berkelanjutan dan pengusahaannya memperhatikan tuntutan masyarakat domestik dan global. Sementara misinya yaitu pengusahaan tembakau tetap dipertahankan selama pasarnya masih membutuhkan” imbuh Gus Ipul, sapaan akrab Wakil Gubernur.
Tujuan internasional workshop ini kata Gus Ipul, secara umum ingin mempertahankan eksistensi tembakau Naa-Oogst (NO) dan mengembangkan tembakau Virginia sebagai substitusi impor yang saat ini telah mencapai 36 ribu ton.
Workshop juga membahas prospek tembakau cerutu (Na-Oogst) dan memperbaiki pola pemasaran tembakau eksportir sebagai pembeli dan pengguna NO, dengan kesepakatan win-win antar eksportir sebagai pembeli dan pengguna tembakau NO.
Pemerintah Propinsi Jawa Timur menanggapi kondisi tersebut, tidak serta merta menolak pengendalian dampak produk tembakau terhadap kesehatan. Namun tetap ada upaya pengendalian dampak tembakau terhadap kesehatan, meski tidak melahirkan larangan merokok kecuali terhadap anak-anak.
Gus Ipul berharap, hasil pelaksanaan workshop ini memunculkan terobosan baru agar permasalahan yang sering dihadapi petani tembakau yaitu pemasaran dapat diatasi. Masalah lain yang sering timbul yaitu mengenai fluktuasi harga tembakau yang begitu tajam, serta keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal sehingga merugikan petani tembakau.(PetrusR/jto)
Keterangan Foto: Wagub Jatim Saifullah Yusuf pada pembukaan Workshop tentang Tambakau.(PetrusR)

Cigar Aficionado

Cigar Aficionado adalah majalah Amerika yang didedikasikan untuk dunia cerutu. Diterbitkan sejak September 1992, majalah yang dikenal tentang merk-merk cerutu yang berbeda di seluruh dunia, dan untuk selebritis yang telah muncul di sampulnya. Majalah ini juga tercatat karena penentangannya pada embargo Kuba. Diberi subjudul sebagai "The Good Life Magazine for Men", diterbitkan oleh Marvin R. Shanken, yang juga menerbitkan majalah Wine Spectator. Kini editornya adalah Gordon Mott.

Daftar selebriti yang ditampilkan di sampul Cigar Aficionado

Sampul majalah Cigar Aficionado yang menampilkan aktor kelahiran Kanada William Shatner
  • 1992:
    • tiada

Pranala luar

Produksi Tembakau Cerutu Terancam

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Ilustrasi


JEMBER, KOMPAS.com -- Petani tembakau bahan cerutu Besuki Naa Oogst berharap perhatian pemerintah. Mereka butuh bantuan untuk perbaikan gudang pengasapan daun tembakau.
Selama proses pengeringan daun tembakau musim tanam 2011, sebanyak 22 gudang pengeringan musnah dilalap api beserta tembakau isinya. Pengeringan dilakukan untuk memperoleh hasil produksi sesuai dengan permintaan pasar.
Kerusakan gudang terjadi lagi akibat puting beliung yang merubuhkan 48 gudang pada Januari 2012. "Ini sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan produksi daun tembakau bahan cerutu," kata Bendahara Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jember Abdul Kadir kepada Komisi B DPRD Jember, Rabu (29/2/2012) di Jember, Jawa Timur.
Jika dibiarkan tanpa bantuan apa-apa, menurut Kadir, kian lama produksi tembakau bahan cerutu kian berkurang karena keterbatasan sarana untuk pengeringan.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Naa Oogst Jember H Abdul Halim Hamam menambahkan, setiap musim tembakau selalu ada gudang pengeringan ludes dilalap api bersama isinya. Pada tahun 2010, gudang pengeringan yang terbakar sebanyak 25 unit dan dibangun kembali oleh pemiliknya sebanyak 11 unit.
Anggota Komisi B DPRD Jember H Karimullah mengatakan, petani harus diberdayakan sehingga perlu dapat bantuan. Penguatan kelembagaan petani harus dilakukan. "Mereka perlu perhatian dan bisa dibantu dari dana alokasi cukai," ujar Karimullah.

Cerutu atau serutu (dari bahasa Tamil சுà®°ுட்டு, suruá¹­á¹­u, yang berarti "gulungan")

Cerutu


Beberapa merek cerutu.
cerutu dan pemotongnya
Cerutu atau serutu (dari bahasa Tamil சுà®°ுட்டு, suruá¹­á¹­u, yang berarti "gulungan") adalah gulungan utuh daun tembakau yang dikeringkan dan difermentasikan, yang – mirip dengan rokok – salah satu ujungnya dibakar dan asapnya dihisap oleh mulut melalui ujung lainnya. Tembakau untuk cerutu terutama dibudidayakan di negara-negara seperti Brasil, Kamerun, Kuba, Republik Dominika, Honduras, Indonesia, Meksiko, Nikaragua, dan Amerika Serikat dengan cerutu dari Kuba dianggap merupakan ikon untuk cerutu.

 Sejarah

Explorer Christopher Columbus umumnya dikreditkan dengan memperkenalkan tembakau ke Eropa. Dua awak Columbus selama perjalanan 1492, Rodrigo de Jerez dan Luis de Torres, yang dikatakan telah ditemui tembakau untuk pertama kalinya di pulau San Salvador di Bahama, ketika pribumi yang disajikan dengan daun-daun kering yang tersebar aroma yang aneh. Tembakau tersebar secara luas di antara semua pulau-pulau di Karibia dan karena itu mereka lagi ditemui di Kuba, di mana Columbus dan anak buahnya telah menetap. [1]
Sekitar tahun 1592, di Spanyol Galleon San Clemente membawa 50 kilogram (110 lb) benih tembakau ke Filipina melalui Acapulco-rute perdagangan Manila. Benih itu kemudian didistribusikan di antara misi Katolik Roma, di mana ulama menemukan iklim dan tanah sangat baik untuk tanaman tembakau berkualitas tinggi di tanah Filipina.
Pada abad ke 19, cerutu merokok Common, sementara rokok masih relatif langka. Pada awal abad ke-20, Rudyard Kipling menulis puisi merokok terkenal, "The bertunangan." Bisnis cerutu adalah industri yang penting, dan pabrik mempekerjakan banyak orang sebelum mekanik pembuatan cerutu menjadi praktis.
Dimulai pada 1860-an ketika Vicente Martinez Ybor Key West menggerakkan bisnis cerutu ke bagian Tampa yang kini dikenal sebagai Kota Ybor, membuka Principe de Gales (Prince of Wales) pabrik lama setelah saingan Flor de Sanchez & Haya membuka pabrik, daerah itu menjadi pusat utama untuk pembuatan cerutu. [2]
Di New York City, cerutu dibuat oleh rol bekerja di rumah mereka sendiri. Hal ini melaporkan bahwa hingga tahun 1883, cerutu sedang diproduksi di apartemen 127 rumah di Kota, mempekerjakan 1.962 keluarga dan 7.924 individu. Sebuah undang-undang negara yang melarang praktik, lulus akhir tahun itu atas desakan serikat buruh atas dasar bahwa praktik upah ditekan, diperintah inkonstitusional kurang dari 4 bulan kemudian. Industri, yang telah pindah ke Brooklyn dan tempat-tempat lain di Long Island sementara hukum yang berlaku, kemudian kembali ke Kota. [3]
Seperti tahun 1905, ada 80.000 operasi pembuatan cerutu di AS, sebagian besar dari mereka kecil, keluarga-toko dioperasikan di mana cerutu digulung dan dijual segera. [2]
Banyak cerutu modern, sebagai masalah prestise dan kualitas, masih digulung dengan tangan, paling terutama di Amerika Tengah dan Kuba dan juga di chinchales ditemukan di hampir semua kota yang cukup besar di Amerika Serikat. [2] Kotak-kotak cerutu linting tangan beruang totalmente kalimat yang mano (benar-benar dengan tangan) atau hecho a mano (dibuat dengan tangan).

Komposisi

Cerutu terdiri dari tiga jenis daun tembakau, variasi yang akan menentukan rasa merokok dan karakteristik:

Lapis pembungkus

Sebuah cerutu akan telihat dari balutan daun terluar atau pembungkus yang berasal dari bagian perkebunan yang luas dan penentuan atas pembungkus cerutu dapat menjelaskan karakter dan rasa termasuk dengan warnanya yang sering dipergunakan untuk menggambarkan cerutu secara keseluruhan. Penunjuk warna yang adalah sebagai berikut, dari terang ke gelap:
WarnaKeterangan
Double Clarosangat ringan, agak kehijauan (juga disebut Candela, American Market Selection atau jade); dicapai dengan memetik daun sebelum jatuh tempo dan pengeringan cepat; sering ditanam di Connecticut.
Clarocokelat terang atau kekuningan yang menunjukkan naungan-tumbuh tembakau.
Coloradocoklat kemerahan (juga disebut Rosado atau "Corojo").
Colorado Claroagak kecokelat, khususnya yang berkaitan dengan tembakau yang ditanam di Republik Dominika atau di Kuba.
Colorado Madurocoklat tua; khususnya yang berkaitan dengan tumbuhan tembakau Honduras atau Kuba.
Naturalcokelat muda sampai cokelat yang seperti umumnya tumbuh pada daerah yang kaya sinar matahari.
Madurocokelat gelap yang sangat gelap.
Oscuroa.k.a. "Double Maduro", hitam, sering berminyak dalam penampilan; terutama tumbuh di Kuba, Nicaragua, Brazil, Mexico, dan Connecticut, Amerika Serikat.
Beberapa pabrik menggunakan alternatif penunjukan:
DesignasiAkronimKeterangan
Pilihan pasar AmerikaAMSsinonim dengan Double Claro
Pilihan pasar InggrisEMSdapat merujuk pada semua warna lebih kuat dari Double Claro tetapi tetap lebih ringan dibandingkan dengan Maduro
Pilihan pasar SepanyolSMSsalah satu dari dua warna tergelap, Maduro dan Oscuro
Secara umum, pembungkus yang gelap menambahkan sentuhan cerutu, sedangkan bagi yang ringan menandakan tanda-tanda kekeringan ke rasa. Pada umumnya diterima bahwa pembungkus menyumbang sekitar 40 persen dari rasa, sementara isi dan penutup menyumbangkan 60 persen bagi cita-rasa [1]Hal ini umumnya diterima bahwa cerutu Maduro lebih kuat dalam hal rasa dibandingkan dengan cerutu yang sama dalam bungkus yang lebih ringan akan tetapi ini tidak berlaku untuk semua produk cerutu.

Penutup bungkus

Penutup bungkus atau binder adalah daun elastis digunakan untuk terus bersama pengisi tandan. Pada dasarnya, binder adalah pembungkus yang membalut lubang, kerusakan, perubahan warna atau pembuluh daun yang berkelebihan.

Ukuran dan bentuk

Cerutu biasanya dikategorikan berdasarkan ukuran dan bentuk cerutu yang secara bersama-sama dikenal sebagai vitola.
Ukuran cerutu diukur oleh dua dimensi: berdasarkan cincin ukuran (diameter dalam enam puluh-perempat dalam satu inci) dan panjang (dalam inci).

Referensi

  1. ^ Frank, Michael,Taste and Flavor,Cigar 101, Cigar Aficionado Magazine

Pranala luar

Taru Martani yang berarti “daun kehidupan“

dsc03523a.JPG Di Jogja kita bisa jalan-jalan ketempat yang tidak biasanya yaitu melihat-lihat pabrik. Ini adalah sebuah  pabrik cerutu tua yang didirikan sejak jaman penjajahan Belanda yang sampai saat ini masih beroperasi dan berada ditengah-tengah kota Jogja. Pabrik ini berdiri sejak tahun 1918.
Pabrik ini pertama kali berdiri didaerah Bulu, pinggir Jalan Magelang, dengan nama N.V. Negresco. Pada tahun 1921, pabrik itu pindah lokasi ke wilayah yang sekarang Baciro, sebelah barat Stadion Mandala Krida Yogyakarta atau timur jembatan layang Baciro. Masa penjajahan Jepang, nama pabrik sempat diubah menjadi Java Tobacco Kojo. Saat itulah pabrik ini mencapai kejayaannya karena didukung oleh mesin-mesin pembuat rokok putih yang didatangkan pemerintah Jepang dari B.A.T Cirebon.
Perang Dunia II berakhir. Sultan Hamengku Buwono IX mengambil alih dan mengganti nama perusahaan itu menjadi Taru Martani yang berarti “daun kehidupan“. Namun, tahun 1949, Belanda menguasai Yogyakarta , dan pabrik jatuh ke tangan N.V.Negresco, pemilik lama. Meski begitu, pabrik tak bisa beroperasi karena terjadi kekacauan politik. Tahun 1951, BAT memboyong kembali mesinnya ke Cirebon. Akibatnya, pabrik di Yogya dibiarkan kosong.
Setahun kemudian, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Bank Indonesia membeli perusahaan ini dan namanya kembali menjadi Taru Martani. Ketika itu ada hanya tiga merek cerutu yang diproduksi, yakni Mundi Victor, Senator, dan Elomercio. Sementara untuk kertas sigaret adalah Chaveaux Blancs. Di tahun 1957 produksi ditambah berupa tembakau shag dan dua merek rokok kretek, yakni Roro Mendut dan Roro Jonggrang.
Tahun 1972, Sri Sultan HB IX yang waktu itu menjabat Wakil Presiden RI, menjadikan perusahaan ini menjadi milik pemerintah DIY. Nama pun berubah lagi menjadi PD Taru Martani.
Saat ini PD Taru Martani telah memproduksi 14 jenis cerutu, yaitu Cigarillos, Extra Cigarillos, Senioritas, Panatella, Half Corona, Corona, Super Corona/Grand Corona, Boheme, Royal Perfecto, Rothschild, dan Churchill. Sementara sebagai variasinya, Taru Martani memproduksi cerutu dalam tiga aroma, yaitu nature cigar atau murni tembakau, flavour cigar atau tembakau dengan tambahan aroma (mint, vanila, rhum, hazelnut) dan mild cigar. Kebanyakan produk adalah untuk export diantaranya ke Asia, Belanda, Belgia, Jerman, Cekoslovakia, Amerika dan Eropa.
Beberapa merek cerutu legendaris masih diproduksi seperti Senator dan Mundi Victor ada juga merek Adipati, Ramayana dan Borobudur sejak tahun 1970. Tembakau rajang tersedia dengan Van Nelle, Drum, dan Countryman.
Mari sekali-kali lihat pabrik pembuatan cerutu ini seluas 2 hektar, tempatnya asri dengan halaman yang luas.
dsc03534a.JPG
http://rinangpramito.blogdetik.com/cerutu/

Tuesday, April 3, 2012

Pabrik Cerutu Cohiba

Cohiba Cigar Factory: Exclusive Photos

04.03.2011 @ 08:01 AM in environment


The Cohiba Cigar Factory is a state Cuban enterprise. Excursions are not allowed here, no tourists can come in. The only exception is made for specially invited officials.

Cohiba from Indian: a bunch of tobacco leaves wrapped in a big leaf. Inhaling a tobacco aroma, the Indians contacted the ancient Gods this way. That's why the silhouette of a chief is depicted on the emblem of the brand as a token of gratitude to the bygone Indian generations.
Cohiba is a legendary factory. Founded in 1966 it was the first cigar production opened after the revolution. In short, its history is the following. A Fidel Castro's bodyguard smoked unusually aromatic strong cigars made by his friend in one of the factories of Havana. Castro saw the true value of that tobacconist and hired him so that he made personal cigars for him. Soon the elite production was opened in El Laguito.

Initially only women worked in the factory and all the production was made as gifts for foreign guests and diplomats. Its quality was half a battle as only the best tobacco was used here. Some time later the brand became very popular all over the world.

The entrance hall.

This lady not only welcomes guests but also serves as a speaker on the "inner radio". Her well-trained voice sounds all over the factory and informs the workers about everything - from news to "reports from the fields".

The Cuban tobacco is 100% natural. All chemical admixtures and pesticides are forbidden here. Pictured: the first stage of the production called fermentation. The longer tobacco is fermented the less nicotine and ammonium it contains. Fermentation is held in a dark closed room. After the third stage of fermentation is done, the leaves of tobacco are to be sorted.

But at first they are thoroughly examined if they are damaged or contain some bugs. Then their stretching and elasticity are tested. All the work is done by hand.

Each leaf is valuable and unique. They are sorted by quality and color, then recounted and placed in separated piles.

The cigar tobacco shouldn't contain large stems thus they are carefully pulled out.

Tobacco sorted this way goes to the next workshop. Here it passes several stages of blending and then goes to one or another sort of cigars. It's worth mentioning that all the stages are under close control. It proves one of the most popular tools here - a notebook with numerous numbers and a pen.

The bundles of tobacco waiting their turn for being blended. To define the aroma of the essential oils and compose the sorted mixture is the most subtle and important stage of the production, it's a real art accessible to only few people.

The white house on the string is the trap for cigarette beetles.

Silence, moisture, coolness... Aromas of the essential oils turn one's head.

The sorted tobacco goes into a craftsman's hands. 

At first the craftsman cuts out the stem and cuts off the edges of the leaf. A special knife called chaveta is used. All expensive sorts of cigars are made from a single tobacco leaf. The air should easily come through the cigar and the aroma should be easily inhaled. Besides, the shape of the ash "cap" also plays an important role. An accurate cap on the tip of a cigar is a sign of a good quality.

The director of the factory.

Cigars don't like the temperature and moisture differentials and their "best before" date depends on where and how they are stored.

A cigar consists of 3 parts: tripa, capote and capa. 

Tripa is a filling of the cigar, its central part. It consists of several whole leaves without any veins and stems. All of them are of the same width. If one leaf of the filling is thicker than another, the speed of their burning will be different. The leaves used in a filling are both the coarsest and the most fragrant.

The filling is pleated and it's possible to do only by hand. That's why handwork cigars are so valued. These pleats burn well and allow the air to easily come through the cigar.

Capote is the wrapping which helps to keep the filling inside. This leaf is a little thinner than the inner one but the strongest one. It's responsible for the shape of the cigar. The material is pressed in special forms.

Checking the quality of the packing.

Then it goes under the press.

Capa is the most expensive and elastic leaf, the best one responsible for the outer appearance of the cigar which is wrapped in it. Usually it's a very thin and pleasantly smelling leaf. 

When the cigars are done their stretching is examined. If the test is passed it moves to the next stage - the color sorting.


These women have a wonderful sense of smell. They check if the cigars suit the bouquet of aromas - a unique skill passed on from generation to generation.

All the cigars should have an ideal shape and be of the same color in a box. A specialist defines more than 90 colorings of a tobacco leaf.

If one didn't know it's a cigar production, one would think it's a sausage factory.

Can you see the difference?

Sorted products.


Marking. Every label is under strict control.

Pasting the label by hand.

A ready-made production.

There are about 20 sorts of Cohiba. A box of Cohiba Esplendido (25 cigars) costs about $380 on Cuba. As for Europe, its price is more than 1000 euros there.


Some of the sorts aren't sold at all. They are only exported. One should remember Cohiba is the most expensive cigars which are mainly considered an element of prestige.

via dima-chatrov